Kerenz.... Pelajar Semarang Ciptakan Alat Bayar Minum Lewat SMS.Siapa Yang Mau Pesan???



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs6DRJag16dOiwoIduHb1ILGBLhyB97s5mw2Ar5Ra1sP_XSn6D0CRXGCNkbnMbAEtCmL1EOZuu1eMn7xeT3PaKLqMoA2BQQfkecx0r95vRJPQ2RSXWnHpes8ho6GUTfbP3DjMDY3xhSyg/s1600/minuman+smsan.jpeg


Para pelajar kita tak tak cuma jawara dalam ilmu murni di Olimpiade Fisika dan Matematika. Mereka juga mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari maupun dunia industri. Penemuan para pelajar SMA Semesta Bilingual Boarding School Semarang berikut ini menjadi salah satu bukti.

Membeli minuman hanya dengan memasukkan sejumlah uang koin tertentu sudah bukan hal aneh. Di sudut-sudut Bandara Soekarno-Hatta atau shelter bus Transjakarta bisa kita jumpai mesin penjual minuman atau soft drink vending machine. Tapi membeli lewat layanan pesan singkat (SMS)? Cuma Aditya Putrawan dan Endo Sadewa yang mampu mewujudkannya.
Kedua pelajar itu mendemonstrasikan ide mereka pada lomba Info Matrix Project Competition di Bucharest, Rumania, 22-26 April lalu. Hasilnya, "Box Soft Drink Seller Via SMS" yang mereka ciptakan diganjar dengan medali perak.

Info Matrix merupakan olimpiade proyek penelitian tingkat internasional dalam bidang komputer untuk tingkat sekolah menengah atas. Ada lima kategori yang dilombakan: fotografi, pemrograman, muatan digital, kendali peranti keras, dan animasi. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan oleh LUMINA Educational Institution bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Riset, Pemuda, dan Olahraga Rumania. Tahun ini pesertanya berasal dari 32 negara.

Aditya dan Endo menuturkan, pembuatan alat ini terilhami oleh cerita rekan sekolah yang baru mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Sang teman bercerita, di Negara Matahari Terbit itu, teknologi sangat memanjakan masyarakatnya. Di tempat-tempat publik, misalnya, bertebaran vending machine, yang menjajakan aneka bahan kebutuhan, seperti tiket, bahan bakar, makanan ringan, minuman, sampai kondom. Cukup dengan memasukkan koin atau uang kertas, barang-barang yang diperlukan bisa langsung didapat.

"Jika diaplikasikan di Indonesia, cukup susah," kata Aditya saat berbincang dengan Tempo, Kamis lalu. Sebab, di Indonesia uang koin pecahan terbesar cuma Rp 1.000 sehingga kurang praktis untuk penjualan harga yang mencapai Rp 5.000 atau lebih. Juga tidak praktis bila harga tidak bulat.
Penggunaan mesin dengan uang kertas juga kurang cocok mengingat uang kertas kita mudah lusuh dan kumal. "Kami berpikir, kenapa tidak menggunakan SMS saja," kata Endo. "Toh, hampir semua orang kini mempunyai telepon seluler," Aditya menimpali.

Dengan bimbingan seorang guru, proyek ini selesai empat bulan dengan biaya Rp 1,8 juta. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain boks dari bahan akrilik berukuran 50 x 30 x 70 sentimeter. Boks dilengkapi dengan micro-controller sebagai otak alat ini, motor servo sebagai penggerak, papan penyangga soft drink, modul GSM untuk menerima SMS, serta LCD sebagai layar konfirmasi pemesanan.

Cara kerjanya sederhana. Cukup kirim SMS ke nomor yang tertera dalam vending machine dengan mengetik jenis minuman dan jumlah barang yang dipesan. Permintaan akan dikonfirmasi mesin melalui layar. Untuk sementara, mesin ini hanya menawarkan tiga merek minuman ringan, masing-masing merek tersedia tiga kaleng. "Namun dengan mudah bisa diganti dengan merek lain, termasuk operator GSM bisa diganti dengan CDMA," kata Endo. Kapasitas mesin ini juga bisa ditingkatkan.

Kedua siswa berusia 17 tahun ini mengaku tidak menemukan kesulitan berarti saat merangkai mesin itu. Cuma agak melelahkan karena harus bolak-balik dari sekolah di Gunung Pati ke laboratorium Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro, yang berjarak sekitar 30 kilometer. "Meski capek, tapi kami puas mampu bersaing dengan pelajar di tingkat internasional," kata Endo dan Aditya bersamaan.

Aditya, yang bercita-cita menjadi duta besar, juga puas, bisa bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara sambil memperkenalkan budaya Indonesia. "Karena Info Matrix Project Competition tidak sekadar lomba pengetahuan, juga tapi pergelaran budaya masing-masing negara peserta."

Apakah temuan ini akan disempurnakan dan dikomersialkan? Keduanya belum memberikan kepastian. Sebab, pada saat kelas tiga nanti, mereka harus total berkonsentrasi menghadapi ujian akhir nasional. "Tapi, jika ada adik kelas yang ingin meneruskan, silakan," ujar mereka.